Vokasiana.com - Suara Inspirasi. Negara akhirnya berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik, tetapi cukup membuat sebagian orang berhenti mengetuk meja rapat. Kepala sekolah, kata aturan, hanya boleh menjabat dua periode. Setelah itu, kembali menjadi guru. Tidak ada kata “turun”. Tidak ada kata “dicopot”. Hanya satu kata yang terasa sederhana sekaligus menohok: kembali.
Kembali ke kelas.
Kembali ke papan tulis.
Kembali ke dunia nyata.
Pasal 23 ayat (6) menjelaskannya dengan bahasa yang rapi dan sopan, seolah takut menyinggung perasaan: guru yang selesai bertugas sebagai kepala sekolah akan dikembalikan ke satuan pendidikan asal atau ditempatkan di sekolah lain sesuai keahliannya. Sebuah kalimat administratif yang sesungguhnya menyimpan pesan moral: jabatan itu singgah, profesi itu rumah.
Selama ini, ada kesan bahwa kursi kepala sekolah memiliki daya lekat seperti permen karet. Sekali duduk, sulit dilepas. Padahal, kursi itu bukan warisan keluarga, bukan pula hak milik. Ia hanya amanah—dan amanah punya tanggal kedaluwarsa.
Aturan ini barangkali terasa pahit bagi mereka yang sudah terlalu lama berteman dengan ruang ber-AC, map berwarna, dan tanda tangan yang berkuasa. Sebab kembali mengajar berarti kembali berhadapan dengan hal-hal kecil yang sering diremehkan: suara kelas yang ramai, spidol yang habis di tengah penjelasan penting, dan siswa yang jujur bertanya tanpa basa-basi.
Namun justru di situlah pendidikan bernapas. Kepala sekolah yang kembali menjadi guru membawa sesuatu yang langka: kesadaran. Ia tahu bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana rapat melelahkan, dan bagaimana guru sering menjadi ujung tombak yang lupa diapresiasi.
Maka aturan ini sesungguhnya bukan hukuman. Ia adalah terapi. Terapi agar kekuasaan tidak terlalu lama duduk. Terapi agar empati kembali tumbuh. Terapi agar pendidikan tidak lupa : sekolah dibangun bukan oleh jabatan panjang, melainkan oleh orang-orang yang mau kembali ke kelas tanpa merasa direndahkan.
Karena pada akhirnya, spidol lebih setia daripada kursi empuk.
Posting Komentar untuk "Kepala Sekolah Ada Masanya, Spidol Selamanya"