Vokasiana.com - Suara Inspirasi. Menjadi kepala sekolah itu kadang seperti berdiri di tengah halaman sekolah yang ramai, tetapi diam-diam merasa sendirian.
Setiap pagi ia datang lebih awal dari banyak orang. Membuka gerbang, memastikan semuanya berjalan, memikirkan banyak hal bahkan sebelum guru dan siswa hadir. Di kepalanya sudah ada daftar panjang yang harus diselesaikan hari itu. Tentang administrasi yang menumpuk. Tentang target yang harus tercapai. Tentang keluhan wali murid. Tentang guru yang mulai sering izin. Tentang siswa yang makin sulit diarahkan. Semua bercampur menjadi satu.
Lalu perlahan, tanpa sadar, jabatan itu mulai mengubah banyak hal.
Yang dulu mudah tersenyum mulai sering terlihat tegang. Yang dulu suka mendengar mulai lebih banyak memberi instruksi. Yang dulu dekat dengan guru-guru mulai sibuk dengan ruang kerja dan tumpukan berkas.
Padahal sekolah sesungguhnya tidak pernah hidup karena aturan semata.
Sekolah hidup dari suasana.
Dari sapaan kecil di pagi hari. Dari ruang guru yang masih dipenuhi tawa. Dari guru yang merasa dihargai ketika lelahnya diperhatikan. Dari murid yang merasa sekolah adalah tempat pulang kedua setelah rumahnya.
Kadang kita terlalu sibuk membangun citra sekolah, sampai lupa menjaga hati orang-orang yang setiap hari membuat sekolah itu tetap bernyawa.
Ada sekolah yang gedungnya megah, cat temboknya baru, medianya ramai dengan prestasi. Tetapi ketika masuk ke dalamnya, terasa ada sesuatu yang hilang. Guru-guru berjalan cepat tanpa banyak bicara. Rapat hanya dipenuhi formalitas. Ide-ide baru mati sebelum selesai disampaikan. Semua terlihat bekerja, tetapi tidak benar-benar hidup.
Sebaliknya ada sekolah yang sederhana. Kursinya tidak semuanya baru. Ruangannya biasa saja. Tetapi hangat. Guru-gurunya bertahan bukan karena gaji besar, melainkan karena merasa dihargai. Murid-murid datang dengan wajah cerah karena mereka merasa diterima.
Dan anehnya, suasana seperti itu hampir selalu lahir dari cara seorang pemimpin memperlakukan orang lain.
Bukan dari seberapa keras suaranya ketika memberi arahan. Bukan dari seberapa banyak aturan yang dibuat. Tetapi dari seberapa besar ia masih punya waktu untuk mendengar.
Karena sering kali guru tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka hanya ingin merasa dianggap ada.
Hanya ingin ketika lelahnya mulai terlihat, ada yang bertanya, “Sampean tidak apa-apa?”
Kalimat sederhana. Tetapi kadang lebih menguatkan daripada penghargaan apa pun.
Menjadi kepala sekolah memang tidak mudah. Tekanan datang dari mana-mana. Kadang niat baik pun terdengar seperti kemarahan karena disampaikan dalam keadaan lelah. Kadang ketegasan yang dimaksudkan untuk memperbaiki justru meninggalkan jarak yang perlahan sulit didekatkan kembali.
Dan semua itu manusiawi.
Karena kepala sekolah juga manusia. Bisa penat. Bisa kecewa. Bisa lelah menghadapi keadaan yang tidak selalu sesuai harapan.
Tetapi mungkin justru di situlah makna kepemimpinan diuji.
Bukan saat semuanya berjalan baik-baik saja, melainkan saat tetap mampu menjaga hati orang lain di tengah tekanan yang begitu banyak.
Sebab pada akhirnya, sekolah tidak akan dikenang hanya karena bangunannya, pialanya, atau angka-angka laporannya.
Sekolah akan dikenang dari rasa yang ditinggalkan di dalamnya.
Tentang guru-guru yang pernah merasa dihargai.
Tentang murid-murid yang tumbuh tanpa takut direndahkan.
Tentang suasana yang membuat orang tetap ingin datang setiap pagi, bukan karena kewajiban, tetapi karena merasa sekolah itu adalah rumah yang membuat mereka bertumbuh menjadi manusia.
Posting Komentar untuk "Kepala Sekolah Itu Bukan Jabatan yang Bisa Selesai Saat Jam Pulang"