Ketika Sekolah Mengetuk Pintu Industri - Bagian 1


Vokasiana.com - Kemitraan Industri.
Tidak ada satu pun sekolah kejuruan di negeri ini yang benar-benar siap ketika pertama kali memutuskan untuk mengetuk pintu industri. Ada semacam keraguan yang selalu muncul: apakah mereka akan disambut, diabaikan, atau hanya diberi senyum sopan tanpa janji apa pun. Tapi di balik ketidakpastian itu, selalu ada satu keyakinan kecil yang mendorong kepala sekolah, guru, atau wakil kurikulum untuk berani melangkah: bahwa masa depan murid terlalu penting untuk diserahkan kepada nasib.

Saya pernah bertemu seorang Kepala SMK yang datang ke sebuah pabrik manufaktur besar hanya dengan membawa map biru tipis dan secangkir keberanian yang sudah ia kumpulkan berbulan-bulan. Tidak ada proposal tebal, tidak ada foto-foto kegiatan sekolah, tidak ada slide presentasi. Hanya ada niat, tekad, dan doa yang ia ucapkan pelan sebelum turun dari motor bebeknya.

Di ruang tunggu perusahaan itu ia duduk sendirian. Pukul sembilan lewat enam belas menit. Di dinding, jam kantor berdetak seperti mengingatkannya: waktu bukan milik sekolah. Waktu milik industri yang bergerak cepat. Ia menatap map yang ia bawa. Di dalamnya hanya ada revisi kurikulum, beberapa rancangan TEFA, dan daftar kompetensi yang ia tulis sendiri dengan pulpen berwarna hitam. Ia tidak tahu apakah semua itu cukup. Tapi ia tahu satu hal: jika tidak dicoba hari ini, mungkin sekolahnya akan ketinggalan lagi setahun.

Ketika manajer HRD akhirnya muncul, percakapan mereka tidak dimulai dengan angka, tidak dengan rencana magang, apalagi laporan akreditasi. Kalimat pertama yang ia ucapkan justru sesuatu yang sederhana namun jujur.

“Pak, saya hanya ingin sekolah kami relevan.”

Kalimat itu seperti membuka ruang baru dalam ruangan itu. Manajer HRD menutup laptopnya. Ia tidak melihat tamu itu sebagai kepala sekolah yang datang membawa proposal. Ia melihat seseorang yang sedang memperjuangkan masa depan generasi muda dengan caranya sendiri.

Dan mungkin memang begitulah kemitraan itu seharusnya dimulai: dari kejujuran tentang kebutuhan. Bukan dari laporan yang disusun untuk menggugurkan kewajiban, bukan dari foto-foto kegiatan yang dicetak rapi, bukan dari proposal yang tidak pernah dibaca juga oleh perusahaan.

Kemitraan yang baik mulai dari kesediaan dua pihak untuk mendengarkan.

Ketika bicara tentang DUDIKA, banyak orang terlena pada slogan-slogan besar: link and match, teaching factory, magang guru, kurikulum bersama. Kata-kata itu terdengar indah ketika dibacakan dalam sambutan resmi, tetapi kenyataannya lebih rumit. Ada jurang lebar antara sekolah yang hidup dalam ritme kalender pendidikan dan industri yang hidup dalam ritme target produksi. Sekolah memikirkan kelulusan, industri memikirkan efisiensi. Sekolah memikirkan nilai, industri memikirkan kualitas.

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman: sekolah mengira industri siap menerima siswa kapan saja. Industri mengira sekolah selalu punya standar seperti pabrik. Padahal keduanya sama-sama berjuang dengan keterbatasannya.

Saya pernah mendengar seorang supervisor pabrik berkata, “Kami ingin membantu, tapi menerima anak PKL itu tidak mudah. Kami harus mengawasi, kami harus memberi instruksi, kami harus menjamin keselamatan.” Dalam nada suaranya ada keinginan, tetapi juga ada kekhawatiran. Sementara guru dari sekolah itu berkata, “Kami mengajar sebaik mungkin, tapi kami butuh dukungan dari industri supaya pembelajaran kami tidak ketinggalan.”

Antara kebutuhan sekolah dan kebutuhan industri, selalu ada jarak. Dan jarak itulah yang harus diisi oleh komunikasi.

Lalu ada satu hal yang sering terlupakan: magang guru. Ini adalah program paling penting tetapi paling kurang dilakukan. Banyak sekolah hanya fokus mengirimkan siswa PKL, padahal kemampuan siswa tidak akan pernah mengimbangi industri jika gurunya tidak pernah merasakan dunia industri secara nyata.

Saya pernah melihat perbedaan mencolok antara dua guru otomotif. Guru pertama mengajar dari buku-buku lama, modul lama, dan alat lama. Ia melakukan yang terbaik, tetapi ia mengajar masa depan dengan metode masa lalu. Sementara guru kedua—yang baru saja selesai magang sebulan di industri—mengajar dengan semacam ketajaman baru. Tangannya lebih cepat, bahasanya lebih singkat, dan penjelasannya lebih “industri”.

Anak-anak merasakannya. Mereka berkata, “Pak, cara Bapak menjelaskan beda sekarang. Seperti orang pabrik.”
Dan guru itu hanya tersenyum. Karena ia tahu, pembelajaran yang ia bawa bukan hanya dari buku—tetapi dari pengalaman nyata bekerja bersama teknisi profesional.

Di sinilah inti perubahan itu terjadi. Bukan pada alat mahal, bukan pada gedung baru, tetapi pada perspektif guru yang berubah.

Saya pernah mengunjungi sebuah SMK kecil di pinggiran Malang. Gedungnya sederhana. Bengkelnya tidak megah. Alatnya tidak baru. Tetapi industri datang ke sana. Tidak hanya datang untuk mengisi pelatihan, tetapi juga untuk memesan produk TEFA mereka. Mengapa?

Karena sekolah itu tidak menunggu mundur. Mereka tidak menunggu bantuan turun. Mereka tidak menunggu persetujuan ini dan itu. Mereka bergerak dulu.

Setiap masukan dari industri langsung dijadikan perubahan. Tidak ada rapat panjang, tidak ada birokrasi rumit. Kepala sekolah cukup mengatakan, “Kalau industri menganggap ini perlu, kita lakukan.”

Sederhana, tetapi sangat langka.

Dan industri menyukai itu. Mereka menyukai sekolah yang adaptif. Sekolah yang cepat. Sekolah yang tidak tersinggung jika diberi kritik.

Kadang industri tidak butuh alat yang canggih. Mereka hanya butuh sekolah yang mau mendengar.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah konsistensi. Banyak kemitraan yang hangat di awal, tetapi dingin setelah tiga bulan. Setelah MoU difoto dan diunggah, semuanya kembali seperti sebelum-sebelumnya.

Padahal kemitraan itu perlu dipelihara. Evaluasi triwulan sederhana dapat menjaga hubungan tetap hidup. Tidak perlu protokol, tidak perlu undangan resmi. Cukup satu meja kecil, dua gelas kopi, dan daftar kecil yang berisi:

“Mana yang sudah berjalan?”
“Mana yang belum?”
“Apa yang baru di industri?”
Apa yang harus diperbaiki di sekolah?”

Dalam percakapan sederhana itu, banyak pintu baru terbuka.

Saya kembali pada cerita di awal. Kepala SMK yang datang sendirian itu akhirnya mendapatkan kerja sama besar dengan industri tersebut. Tapi perjalanan itu tidak selesai dalam satu hari. Tidak selesai dalam satu pertemuan. Bahkan tidak selesai dalam satu semester.

Kemitraan itu tumbuh seperti pohon. Perlahan, tetapi pasti. Dari 12 siswa PKL menjadi 30 siswa. Dari PKL menjadi TEFA. Dari TEFA menjadi kurikulum bersama. Dari kurikulum bersama menjadi lowongan kerja khusus alumni mereka. Dan dari situ, sekolah itu berubah total.

Yang mereka mulai dari ketukan kecil, kini menjadi pintu besar yang terus terbuka.

Pada akhirnya, kemitraan SMK–industri bukan soal MoU. Bukan soal pameran. Bukan soal foto bersama.
Kemitraan adalah keberanian untuk mulai, kerendahan hati untuk belajar, dan konsistensi untuk menjaga hubungan.

Di masa depan, mungkin sekolah tidak lagi perlu mengetuk terlalu keras. Jika kualitasnya terjaga, industri akan membuka pintunya sendiri.

Karena pada akhirnya, dunia kerja selalu membutuhkan tenaga terampil.
Dan SMK—selalu—memegang kuncinya.

Posting Komentar untuk "Ketika Sekolah Mengetuk Pintu Industri - Bagian 1"