Ketika Industri Mulai Melihat Sekolah - Bagian 2


Vokasiana.com - Kemitraan Industri.
Ada satu titik dalam perjalanan sebuah SMK ketika keadaan berbalik. Jika pada awalnya sekolah selalu yang mengetuk pintu industri, kini ada masa ketika industri mulai melirik ke arah sekolah. Bukan karena sekolah mendadak menjadi hebat, bukan karena gedung baru berdiri megah, bukan pula karena alat praktik baru berharga miliaran datang dari pusat.

Biasanya karena hal yang jauh lebih sederhana: konsistensi.

Saya pernah mengunjungi sebuah industri pengolahan makanan di Sidoarjo. Perusahaan itu tidak terlalu besar, tetapi berkembang cepat. Setiap tiga bulan, mereka mendatangkan tenaga kerja baru untuk lini produksi. Mereka tidak punya hubungan resmi dengan sekolah mana pun. Mereka hanya memilih lulusan berdasarkan kebutuhan harian.

Tetapi ada satu waktu, tiba-tiba HRD perusahaan itu meminta daftar lulusan dari satu SMK tertentu.

“Kenapa sekolah itu?” tanya saya.

Jawabannya mengejutkan dan sangat jujur.

“Mereka tidak pernah memberi kami kesan buruk.”

Kesan buruk.
Sebegitu sederhananya alasan industri.

Ternyata selama setahun terakhir, tiga lulusan SMK itu bekerja di tempat tersebut. Tidak semuanya paling hebat. Tidak semuanya paling cepat. Tidak semuanya paling terampil. Tetapi tidak ada satu pun yang menyulitkan. Tidak ada yang menghilang mendadak. Tidak ada yang menolak SOP. Tidak ada yang membantah supervisor. Tidak ada yang membawa masalah dari luar ke dalam pabrik.

Ketika industri tidak menemukan masalah, maka itulah prestasi.

Dan industri memiliki ingatan yang panjang tentang hal-hal yang tenang.

Ada kebiasaan industri yang tidak disadari sekolah: industri lebih percaya rekam jejak daripada pidato. Mereka lebih percaya data sederhana daripada presentasi yang memukau. Mereka lebih percaya cerita supervisor daripada plakat penghargaan di lobi sekolah.

Saya pernah bertemu seorang supervisor yang setiap kali ada PKL datang dari sekolah tertentu, ia menghela napas panjang.

“Aduh, sekolah itu lagi.”

Saya tidak tahu apa yang pernah terjadi. Tapi pasti ada sesuatu. Mungkin soal disiplin. Mungkin soal pakaian yang tidak rapi. Mungkin tentang siswa yang lebih sibuk mengeluh daripada bekerja. Mungkin tentang laporan yang tidak pernah dikumpulkan.

Sekali industri punya pengalaman buruk, sulit untuk menghapusnya.
Tetapi jika industri punya pengalaman baik, mereka bisa menjadi pendukung paling kuat bagi sekolah.

Dan di situlah letak kekuatan konsistensi kecil yang sering diremehkan:
sekolah yang mengirim siswa baik, akan selalu dibuka pintunya.

Di satu sisi lain, saya pernah mengikuti rapat kecil antara manajemen industri dan sebuah SMK. Pertemuan itu tidak resmi, dilakukan di kantin pabrik sambil menikmati kopi sachet. Tidak ada notulen, tidak ada LCD, bahkan tidak ada kursi rapat.

Hanya ada dua hal:
kepercayaan dan rasa ingin mengerti.

Manajemen industri meminta agar sekolah mengajarkan “soft skills lebih banyak”.
Karena katanya, “kami bisa melatih teknis, tapi karakter sulit.”

Guru SMK itu mencatat semuanya di buku kecilnya.
Ia menuliskan kata demi kata dengan serius, seolah itu adalah kurikulum baru yang harus ia patuhi besok pagi.
Padahal itu hanya permintaan spontan tanpa format.

Tetapi sikap guru itulah yang membuat industri percaya pada sekolahnya.
Kesediaan mendengar.
Kesediaan untuk berubah.
Kesediaan menganggap masukan industri sebagai sesuatu yang penting.

Sikap itu tidak ada harganya.
Tidak ada anggaran.
Tidak ada proposal.
Tetapi dampaknya sangat besar.

Saya ingat satu momen yang membuat saya berpikir lama.
Seorang HRD berkata kepada saya, “Kami tidak butuh sekolah yang sempurna. Kami hanya butuh sekolah yang mau turun ke lapangan.”

Kalimat itu bagi saya seperti kritik halus kepada banyak SMK yang terlalu sibuk dengan dokumen, tetapi lupa bahwa industri bergerak dengan ritme berbeda.

Ada sekolah yang mengagumkan dari jauh—laporan rapi, dokumentasi lengkap, program tertulis sangat baik—tetapi industri tidak pernah merasakan apa-apa dari mereka.

Ada pula sekolah yang sederhana, tidak banyak bicara, tetapi industrinya ramai.
Karena sekolah itu hadir.
Guru-gurunya datang.
Siswa-siswanya disiplin.
Pimpinan sekolahnya tidak gengsi untuk bertanya.

Dan industri menyukai kesederhanaan yang jujur.

Kemitraan yang terus hidup bukan tentang seremoni.
Bukan tentang MoU dua halaman yang ditandatangani dengan backdrop spanduk besar.
Kadang justru bermula dari hal yang tidak tercatat:

  • Guru yang aktif mengirim laporan perkembangan PKL tanpa diminta

  • Kepala program keahlian yang datang ke pabrik hanya untuk meminta saran

  • Wali kelas yang menghubungi industri saat ada siswa bermasalah

  • Kepala sekolah yang menyempatkan hadir ketika industri mengundang

Industri melihat itu.
Industri mengingat itu.
Industri menghargai itu.

Karena dunia industri adalah dunia yang menghormati komitmen kecil yang dilakukan secara konsisten.

Namun, ada satu hal yang sering membuat kemitraan berhenti:
ego.

Sekolah merasa sudah berbuat sangat banyak.
Industri merasa sudah memberi kesempatan.
Keduanya merasa lebih berjasa daripada yang lain.

Kenyataannya, tidak ada pihak yang paling berjasa.
Yang ada hanyalah pihak yang terus belajar.

Saya pernah melihat kemitraan batal hanya karena sekolah menginginkan penempatan siswa di posisi tertentu, padahal perusahaan tidak punya lowongan di bagian itu.
Ada juga industri yang menolak sekolah karena dalam kunjungan pertama guru-guru terlihat tidak siap, datang terlambat, atau membawa permintaan terlalu banyak.

Ego tidak selalu berbentuk kesombongan.
Kadang ego muncul dari kesalahpahaman kecil yang tidak dibereskan.

Karena itu, kemitraan perlu dibangun dengan prinsip paling sederhana dalam relasi manusia: saling memahami.


Bagian paling menarik dari perjalanan sebuah SMK bukan ketika mereka berhasil bekerja sama dengan industri besar. Bukan ketika perusahaan multinasional menandatangani MoU di aula sekolah.
Bagian paling menarik justru ketika sekolah menemukan pola kerja sama yang tulus dan tidak dibuat-buat dengan industri lokal.

Saya pernah melihat industri kecil—hanya 20 karyawan—menjadi mitra terbaik sebuah SMK.
Mereka tidak punya dana hibah.
Tidak bisa memberi alat.
Tidak memiliki divisi CSR.
Tetapi mereka punya hati.

Mereka menerima siswa PKL setiap tahun.
Mereka melatih dengan sabar.
Mereka menegur dengan bijak.
Dan mereka memberikan pekerjaan kepada tiga lulusan terbaik setiap angkatan.

Apa yang terjadi setelah itu?
SMK tersebut menjadi bagian dari perjalanan industri kecil itu.
Setiap tahun, industri memberi masukan untuk revisi kurikulum.
Setiap kali ada alat baru, sekolah diajak melihat.
Setiap kali ada teknologi baru, guru diberi pelatihan.

Ini mungkin tidak terdengar spektakuler.
Tidak akan viral.
Tidak masuk berita.
Tapi inilah kemitraan paling autentik: saling membutuhkan, saling menumbuhkan.

Ada masa ketika sekolah merasa kecil.
Dan ada masa ketika industri merasa besar.
Tetapi di jalan panjang yang mereka tempuh bersama, keduanya akan menemukan kenyataan yang sama: bahwa mereka tidak akan bisa berjalan sendiri.

Industri butuh tenaga terampil yang dibentuk oleh sekolah.
Sekolah butuh standar kompetensi yang dijaga industri.
Jika keduanya bergerak dalam garis yang seirama, maka masa depan vokasi Indonesia bisa lebih cerah daripada apa yang kita bayangkan.

Dan mungkin suatu hari, kita akan berhenti membicarakan link and match sebagai slogan.
Karena ketika kemitraan itu bekerja, ia tidak lagi butuh nama.
Ia berjalan dengan sendirinya.

Posting Komentar untuk "Ketika Industri Mulai Melihat Sekolah - Bagian 2"