Siswa : Titik Temu yang Menghubungkan Dua Dunia


vokasiana.com - Kemitraan Industri.
Pada akhirnya, dari semua percakapan panjang, rapat kecil, kunjungan industri, perbaikan kurikulum, magang guru, dan pelatihan-pelatihan yang tak kunjung selesai, ada satu hal yang menjadi inti dari semuanya:
siswa.

Siswa lah alasan mengapa sekolah mulai mengetuk pintu industri.
Siswa lah yang membuat industri mau membuka pintu itu.
Dan siswa pula yang sering menjadi cermin apakah kemitraan itu berhasil atau tidak.

Saya selalu percaya bahwa siswa adalah bahasa paling universal antara sekolah dan industri.
Bahasa yang tidak butuh terjemahan, tidak butuh MoU, tidak butuh pidato.

Jika siswa datang dengan kesiapan, industri akan paham.
Jika siswa datang dengan semangat, industri akan menerima.
Jika siswa datang dengan kemampuan bekerja, industri akan ingin kerja sama lebih dalam.

Karena pada akhirnya, kualitas siswa adalah ucapan terima kasih paling nyata dari sebuah SMK kepada industrinya.

Saya pernah menyaksikan momen kecil yang mengubah cara saya melihat hubungan antara sekolah dan industri.
Di sebuah PKL, seorang supervisor mengamati seorang siswa SMK yang bekerja membersihkan peralatan produksi. Anak itu tidak banyak bicara. Tidak sibuk bermain HP. Tidak sibuk bertanya hal-hal konyol. Ia hanya bekerja, dengan ritme yang tenang dan konsisten.

Ada sesuatu pada ketekunan anak itu yang membuat supervisor memperhatikannya sejak hari pertama.

Pada minggu ketiga, supervisor itu mendekatinya saat istirahat.

“Kamu anak SMK mana?”

Anak itu menyebutkan nama sekolah kecil di daerah pinggiran. Sekolah yang mungkin tidak pernah memenangkan lomba apa pun, tidak punya peralatan modern, dan tidak punya gedung megah. Tetapi sekolah itu bisa melahirkan anak yang bekerja dengan hati.

Supervisor itu berkata, “Kamu tahu? Kamu lebih rapi daripada karyawan baru kami.”

Anak itu hanya tertawa, malu.

Dan saya melihat—dari cara supervisor itu menatapnya—bahwa sekolah anak itu sedang mendapatkan nilai tambah tanpa perlu rapat, tanpa perlu MoU, tanpa perlu presentasi.

Hanya dari satu siswa.

Ada juga cerita berbeda.
Seorang siswa datang PKL ke perusahaan desain grafis di Surabaya. Ia datang dengan kepercayaan diri tinggi, membawa portofolio karya-karya yang ia buat dari ponsel. Tidak ada yang luar biasa, tetapi ada semangat kreatif di dalamnya.

Namun, ia tidak terbiasa dengan ritme industri.
Ia kaget saat tahu bahwa desain harus selesai dalam dua jam, bukan dua hari seperti tugas sekolah.
Ia kaget saat tahu bahwa revisi bisa datang lima kali dalam satu pagi.
Ia kaget saat tahu bahwa klien bisa mengubah keputusan hanya lima menit sebelum deadline.

Di hari pertama, ia hampir menangis.
Di hari ketiga, ia mulai belajar.
Di hari ketujuh, ia mulai menikmati.
Di hari keempat belas, perusahaan menawarkan perpanjangan magang.

Dan ketika masa PKL selesai, ia menjadi asisten freelance di perusahaan itu, padahal ia bahkan belum lulus.

Industri melihat satu hal dari anak itu: kemauan belajar.

Itulah bahasa yang dipahami industri.
Bahasa yang melampaui ucapan dan dokumen.

Tetapi ada juga kisah yang tidak seindah itu.
Siswa PKL yang datang tetapi tidak siap mental.
Siswa yang datang hanya untuk “menghabiskan waktu”.
Siswa yang lebih sibuk mencari colokan HP daripada mencari pengalaman.
Siswa yang menolak arahan supervisor karena merasa sudah pintar.

Ketika hal seperti itu terjadi, industri tidak menyalahkan anak itu saja.
Industri melihat sekolahnya.
Melihat gurunya.
Melihat budaya yang membentuk anak itu.

Industri tahu bahwa satu siswa dapat mengangkat reputasi sekolah, tetapi satu siswa juga dapat menjatuhkannya.

Karena itu, banyak industri ingin tahu bagaimana sekolah mengajarkan disiplin, etika kerja, dan sikap profesional.
Bukan hanya kompetensi teknis.
Karena yang paling sulit dilatih adalah karakter.

Ada satu percakapan yang sampai sekarang tidak pernah saya lupa.
Seorang HRD mengatakan kepada saya, “Kami tidak butuh anak yang sempurna. Kami hanya butuh anak yang selamat.”

Saya bertanya, “Maksudnya?”

Ia menjawab, “Selamat dari sikap masa kecilnya, selamat dari kebiasaan buruknya, selamat dari hal-hal yang tidak perlu dibawa ke dunia kerja.”

Saya bertanya lagi, “Lalu keterampilan teknis?”
Ia tertawa. “Itu gampang. Karakter yang susah. Keterampilan tinggal kami latih.”

Dalam kalimat itu, saya melihat kebenaran yang sulit ditolak:
Bahwa siswa adalah cermin sekolah, dan apa yang terlihat di industri adalah apa yang ditanamkan di ruang kelas.

Karena itu, ketika industri mulai melirik sekolah, biasanya karena mereka melihat pola pada siswanya:

  • sikap yang sopan,

  • kemauan belajar,

  • disiplin,

  • kemampuan dasar teknis,

  • dan kesediaan menerima kritik.

Dan sekolah yang berhasil membangun budaya itu akan diingat.

Saya pernah berkunjung ke SMK yang sangat disiplin dalam hal kecil.
Jam masuk tepat.
Seragam rapi.
Rambut dipotong pendek.
Alat praktik dibersihkan sebelum pulang.
Tidak ada toleransi untuk ketidakrapian.

Sebagian siswa mengeluh.
Sebagian merasa terlalu ketat.

Tetapi ketika mereka masuk industri, adaptasi mereka hampir tanpa hambatan. Supervisor memuji. HRD memuji. Manajemen memuji. Dan tanpa diminta, industri menambah kuota PKL untuk sekolah itu.

Sekolah itu akhirnya tidak perlu berpromosi.
Siswanya yang mempromosikan.
Secara otomatis.
Tidak sengaja.
Tapi sangat efektif.

Siswa adalah titik temu.
Titik di mana sekolah dan industri bertemu dalam satu bahasa yang sama.
Tidak peduli berapa banyak pertemuan dilakukan, berapa banyak MoU ditandatangani, atau berapa banyak rapat telah dijalankan—keberhasilan kemitraan akan selalu kembali kepada siswa.

Karena tujuan terbesar kemitraan bukanlah dokumen.
Bukan foto seremoni.
Bukan publikasi.
Tujuan paling besar adalah menciptakan anak-anak muda yang punya masa depan.

Dan di situlah sekolah dan industri akhirnya menyadari bahwa mereka sedang berada di pihak yang sama.
Mereka bukan pesaing.
Mereka bukan dua kubu.
Mereka bukan dua dunia yang terpisah.

Mereka adalah dua tangan yang memegang pundak yang sama: pundak generasi yang sedang belajar berdiri.

Dalam perjalanan panjang SMK membangun kemitraan, siswa adalah kompasnya.
Ketika industri menilai siswa, mereka sedang menilai sekolah.
Ketika siswa berhasil, industri ingin bekerja sama lagi.
Ketika siswa bermasalah, industri memberi masukan agar sekolah memperbaiki diri.

Dan itulah hubungan yang paling sehat:
hubungan yang digerakkan oleh kebutuhan siswa.

Ketika siswa menjadi pusat, kemitraan tidak lagi dipaksakan.
Ia berjalan dengan sendirinya.
Ia tumbuh seperti pohon yang akarnya saling menguatkan.
Tidak terlihat di permukaan, tetapi bekerja diam-diam di dalam tanah.

Saya percaya suatu hari nanti, banyak SMK tidak perlu mengetuk pintu industri.
Karena industri sendiri yang akan mencari mereka.

Hari itu akan datang ketika siswa-siswa mereka pulang dari PKL bukan hanya membawa sertifikat, tetapi membawa reputasi.
Ketika mereka pulang bukan hanya membawa laporan PKL, tetapi membawa kepercayaan.
Ketika mereka kembali ke sekolah dengan cerita-cerita yang membuat adik kelas mereka ingin bekerja lebih keras.

Dan pada hari itu, sekolah dan industri tidak lagi berjalan beriringan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran:
bahwa masa depan negeri ini ditentukan oleh anak-anak muda yang mau belajar, dan orang dewasa yang mau membimbing.

Itulah titik temu.
Titik di mana semua upaya menemukan bentuknya.
Dan siswa berdiri di tengah-tengahnya—menjadi alasan mengapa semuanya dimulai, dan menjadi alasan mengapa semuanya harus diteruskan.

Posting Komentar untuk "Siswa : Titik Temu yang Menghubungkan Dua Dunia "