Vokasiana.com - Suara Inspirasi. Di sekolah, kita sering ribut pada hal-hal kecil yang terdengar besar. Salah satunya: istilah. Model, strategi, metode. Tiga kata ini kerap dipakai bergantian, seolah-olah kembar tiga. Padahal, kalau ditanya pelan-pelan, ternyata mereka tidak pernah sepakat disebut sama.
Saya pernah duduk di ruang guru, mendengar diskusi serius.
“Metode saya sudah pakai PBL.”
Yang lain menyahut, “Strateginya diskusi.”
Yang satu lagi menimpali, “Modelnya ceramah.”
Semua yakin. Semua benar. Tapi semuanya juga agak meleset.
Mari kita urai pelan-pelan. Seperti mengurai benang kusut, bukan dengan ditarik keras, tapi dengan kesabaran.
Model pembelajaran itu ibarat peta perjalanan.
Ia tidak bicara soal langkah kaki, tapi arah besar: mau ke mana kelas ini dibawa. Mau bertamasya ke proyek? Menyelam ke masalah? Atau menemukan sendiri melalui penemuan?
Ketika guru memilih Project Based Learning, misalnya, maka sejak awal ia sudah memutuskan: pembelajaran tidak akan berakhir di papan tulis. Akan ada produk, ada proses, ada cerita. Murid tidak sekadar menjawab soal, tetapi mencipta sesuatu. Model ini punya urutan, punya alur, dan punya filosofi. Ia bukan tempelan, tapi fondasi.
Kalau model adalah peta, maka strategi pembelajaran adalah pilihan rute.
Lewat jalan tol atau jalan desa.
Lewat kerja kelompok atau kerja mandiri.
Lewat diskusi ramai atau refleksi sunyi.
Strategi itu luwes. Ia bisa berubah, tergantung siapa muridnya, bagaimana kelasnya, dan apa situasinya hari itu. Guru yang bijak tahu bahwa strategi tidak boleh kaku. Murid yang kelelahan tidak bisa dipaksa diskusi panjang. Murid yang pasif tidak bisa dibiarkan sendirian.
Dalam satu model Project Based Learning, guru bisa memilih strategi kolaboratif. Murid dibagi kelompok heterogen. Ada yang pandai bicara, ada yang telaten mencatat, ada yang kuat di lapangan. Guru lalu hadir sebagai pelatih, bukan penguasa. Memberi umpan balik, bukan vonis.
Nah, yang paling sering kita lihat di kelas adalah metode pembelajaran.
Inilah langkah kaki itu.
Metode adalah apa yang benar-benar dilakukan guru dan murid hari ini, jam ini, menit ini. Ceramah singkat. Tanya jawab. Diskusi kelompok. Observasi lapangan. Presentasi hasil kerja. Metode bisa berganti-ganti bahkan dalam satu jam pelajaran.
Pagi ini ceramah lima belas menit.
Lalu diskusi.
Besok observasi ke sawah.
Lusa presentasi.
Tidak ada metode yang paling benar. Yang ada hanyalah metode yang paling sesuai.
Masalahnya, kita sering terbalik.
Metode diangkat jadi model.
Strategi dikira metode.
Model diperlakukan seperti daftar ceklis.
Akibatnya sederhana tapi terasa: pembelajaran jadi kehilangan arah. Murid sibuk, tapi tidak paham untuk apa. Guru lelah, tapi tidak yakin tujuannya tercapai.
Padahal, kalau ditata dengan jernih, semuanya indah.
Model memberi arah.
Strategi mengatur langkah.
Metode menggerakkan kelas.
Seperti memasak.
Model adalah jenis masakannya.
Strategi adalah cara mengatur dapur.
Metode adalah teknik mengiris, menumis, dan menyajikan.
Bukan muridnya yang salah.
Sering kali, kita saja yang keliru menyebut jalannya.
Dan seperti biasa, dalam pendidikan, ketepatan istilah bukan soal pintar-pintaran. Tapi soal tanggung jawab. Karena dari kata-kata itulah, masa depan murid ikut berjalan.
Kalau jalannya jelas, murid akan sampai.
Kalau peta kabur, jangan salahkan yang tersesat.
Posting Komentar untuk "Model, Strategi, dan Metode Pembelajaran : Tiga Saudara yang Sering Disangka Kembar"